Archive:
Showing posts with label Pedoman dan Tata Cara. Show all posts
Tayammum (bahasa Arab: تيمم) mengacu pada tindakan mensucikan diri tanpa menggunakan air dalam Islam, yaitu dengan menggunakan pasir atau debu. Tayammum dilakukan sebagai pengganti wudhu atau mandi wajib.
Hal yang membolehkan tayammum
Tayammum diperbolehkan dilakukan hanya bila:
- Tidak adanya air yang cukup untuk wudhu atau mandi
- Tidak mampu menggunakan air, seperti orang lemah, orang yang dipenjara, atau takut binatang buas
- Sakit atau memperlambat sembuh dari sakit bila menggunakan air
- Jumlah air sedikit dan lebih dyibutuhkan untuk menyambung hidup (minum).
- Tidak adanya alat untuk menimba/mendapatkan air, meski airnya ada dalam sumur misalnya.
- Takut habisnya waktu salat sedangkan untuk mendapatkan air sangat jauh.
- Kondisi yang sangat dingin dengan persyaratan tertentu
Rukun dan sunnah tayammum
Rukun tayammum ada empat, yaitu niat, mengusap muka, mengusap kedua
tangan sampai siku, dan tertib. Dalam bertayammum tidak cukup berniat
menghilangkan hadats saja, sebab tayammum tidak menghilangkan hadats. Dalam tayammum, harus berniat untuk diperbolehkan salat.
Sedangkan sunnah tayamum ada tiga, yaitu membaca basmalah;
mendahulukan anggota kanan dari yang kiri; dan berurutan. Sedangkan yang
membatalkan tayamum juga ada tiga, yaitu semua hal yang membatalkan
wudhu, melihat air yang bisa dipakai berwudhu, dan riddah.
Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa tayammum adalah mengusap muka dan dua belah tangan dengan debu yang suci.
Tayammum dilakukan sebagai pengganti wudhu jika seseoarang yang akan melaksanakan shalat tidak menemukan air untuk berwudhu .
Syarat – Syarat Tayammum
Seseoarang dibolehkan untuk bertayammum jika:
a. Islam
b. Tidak ada air dan telah berusaha mencarinya, tetapi tidak bertemu
c. Berhalangan mengguankan air, misalnya karena sakit yang apabila menggunakan air akan kambuh sakitnya
d. Telah masuk waktu shalat
e. Dengan debu yang suci
f. Bersih dari Haid dan Nifas
Seseoarang dibolehkan untuk bertayammum jika:
a. Islam
b. Tidak ada air dan telah berusaha mencarinya, tetapi tidak bertemu
c. Berhalangan mengguankan air, misalnya karena sakit yang apabila menggunakan air akan kambuh sakitnya
d. Telah masuk waktu shalat
e. Dengan debu yang suci
f. Bersih dari Haid dan Nifas
Sebab – sebab disyari’atkannya Tayammum
Adapun Sebab – sebab disyari’atkannya Tayammum adalah :
1. Tidak ada air untuk dipakai bersuci.
2. Tidak mampu menggunakan air atau dalam keadaan membutuhkan air.
Rukun Tayammum
a. Niat:
Nawaitut-tayammuma li istibaahatish-shalaati fardhal lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku berniat bertayammum untuk dapat mengerjakan shalat, fardhu karena Allah.”
b. Mengusap muka dengan debu tanah, dengan dua kali usapan
c. Mengusap dua belah tangan hingga siku-siku dengan debu tanah
d. Memindahkan debu kepada anggota yang diusap
e. Tertib
a. Niat:
Nawaitut-tayammuma li istibaahatish-shalaati fardhal lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku berniat bertayammum untuk dapat mengerjakan shalat, fardhu karena Allah.”
b. Mengusap muka dengan debu tanah, dengan dua kali usapan
c. Mengusap dua belah tangan hingga siku-siku dengan debu tanah
d. Memindahkan debu kepada anggota yang diusap
e. Tertib
Sunat Tayammum
1. Membaca basmalah
2. Mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri
3. Menipiskan debu
1. Membaca basmalah
2. Mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri
3. Menipiskan debu
Hal – hak yang membatalkan Tayammum
1. Segala hal yang membatalkan wudhu
2. Melihat air sebelum shalat, kecuali yang bertayammum karena sakit
3. Murtad, keluar dari Islam
1. Segala hal yang membatalkan wudhu
2. Melihat air sebelum shalat, kecuali yang bertayammum karena sakit
3. Murtad, keluar dari Islam
Tata Cara / Praktek Tayamum
Tayamum adalah pengganti wudhu atau mandi
wajib yang tadinya seharusnya menggunakan air bersih digantikan dengan
menggunakan tanah atau debu yang bersih. Yang boleh dijadikan alat tayamum
adalah tanah suci yang ada debunya. Dilarang bertayamum dengan tanah berlumpur,
bernajis atau berbingkah. Pasir halus, pecahan batu halus boleh dijadikan alat
melakukan tayamum.
Orang yang melakukan tayamum lalu shalat,
apabila air sudah tersedia maka ia tidak wajib mengulang sholatnya. Namun untuk
menghilangkan hadas, harus tetap mengutamakan air daripada tayamum yang wajib
hukumnya bila sudah tersedia. Tayamum untuk hadas hanya bersifat sementara dan
darurat hingga air sudah ada.
Tayamum yang telah dilakukan bisa batal
apabila ada air dengan alasan tidak ada air atau bisa menggunakan air dengan
alasan tidak dapat menggunakan air tetapi tetap melakukan tayamum serta sebab
musabab lain seperti yang membatalkan wudu dengan air.
Adapun Tata Cara / Praktek Tayamu:
- Membaca
basmalah
- Renggangkan jari-jemari, tempelkan ke debu, tekan-tekan hingga debu melekat.
- Angkat kedua tangan lalu tiup telapat tangan untuk menipiskan debu yang
menempel, tetapi tiup ke arah berlainan dari sumber debu tadi.
- Niat tayamum : Nawaytuttayammuma listibaa hatishhalaati fardhollillahi
ta'aala (Saya niat tayammum untuk diperbolehkan melakukan shalat karena Allah
Ta'ala).
- Mengusap telapak tangan ke muka secara merata
- Bersihkan debu yang tersisa di telapak tangan
- Ambil debu lagi dengan merenggangkan jari-jemari, tempelkan ke debu,
tekan-tekan hingga debu melekat.
- Angkat kedua tangan lalu tiup telapat tangan untuk menipiskan debu yang
menempel, tetapi tiup ke arah berlainan dari sumber debu tadi.
- Mengusap debu ke tangan kanan lalu ke tangan kiri
Tayammum yang Benar Sesuai dengan Sunah Nabi
Tayammum secara bahasa artinya sebagai Al Qosdu (القَصْدُ) yang berarti bermaksud atau bertujuan atau memilih. Allah berfirman:
وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ
“Janganlah kalian bersengaja memilih yang
buruk-buruk lalu kamu menafkahkan hal itu, padahal kamu sendiri tidak
mau mengambilnya melainkan dengan memejamkan mata terhadapnya” (Qs.
Al-Baqarah: 267).
Kata
تَيَمَّمُوا
dalam ayat di atas artinya bersengaja, bermaksud, atau bertujuan. (as-Suyuthy & al-Mahali, al-Jalalain, al-Baqarah: 267)
Sedangkan secara istilah syari’at, tayammum adalah tata cara bersuci dari hadats dengan mengusap wajah dan tangan, menggunakan sho’id yang bersih.
Catatan: Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum, baik yang mengandung tanah atau debu maupun tidak.
Dalil Disyari’atkannya Tayammum
Tayammum disyari’atkan dalam islam berdasarkan dalil al-Qur’an, sunnah dan Ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.
Adapun dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,
وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ
فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ
فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ
“Dan jika kamu sakit
atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau
berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu
dan tanganmu dengan tanah itu”. (Qs. Al Maidah: 6).
Adapun dalil dari Sunnah, sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu,
الصَّعِيدُ الطَيِّبُ وضُوءُ المُسلِمِ وَإِن لَم يَجِد المَاءَ عَشرَ سِنِين
“Tanah yang suci adalah wudhunya muslim, meskipun tidak menjumpai air sepuluh tahun”. (Abu Daud 332, Turmudzi 124 dan dishahihkan al-Albani)
Media yang dapat Digunakan untuk Tayammum
Media yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun kering. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu di atas dan secara khusus,
جُعِلَتِ الأَرْضُ كُلُّهَا لِى وَلأُمَّتِى مَسْجِداً وَطَهُوراً
“Dijadikan permukaan bumi seluruhnya bagiku dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan sesuatu yang digunakan untuk bersuci”. (Muttafaq ‘alaihi)
Keadaan yang Membolehkan Tayammum
Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan beberapa keadaan yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum,
- Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam perjalanan ataupun tidak.
- Terdapat air dalam jumlah terbatas, sementara ada kebutuhan lain yang juga memerlukan air tersebut, seperti untuk minum dan memasak
- Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin lama sembuh dari sakit
- Ketidakmapuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat
- Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat menghangatkan air tersebut.
Tata Cara Tayammum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Tata cara tayammum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan hadits ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu,
بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى
حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى
الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ –
صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ
هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ،
ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ
بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku
mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling
di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah.
Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau
melakukannya seperti ini”. Kemudian beliau memukulkan telapak tangannya
ke permukaan tanah sekali, lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap
punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori,
وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً
“Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”. (Muttafaq ‘alaihi)
Berdasarkan hadits di atas, kita dapat simpulkan bahwa tata cara tayammum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut.
- Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan tanah sekali kemudian meniupnya.
- Mengusap punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.
- Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
- Semua usapan dilakukan sekali.
- Bagian tangan yang diusap hanya sampai pergelangan tangan saja
- Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil
- Tidak wajibnya tertib atau berurutan ketika tayammum
Pembatal Tayammum
a. Semua pembatal wudhu juga merupakan pembatal tayammum
b. Menemukan air, jika sebab tayammumnya karena tidak ada air
c. Mampu menggunakan air, jika sebab tayammumnya karena tidak bisa menggunakan air
Catatan:
Orang yang melaksanakan shalat dengan
tayammum, kemudian dia menemukan air setelah shalat maka dia tidak
diwajibkan untuk berwudhu dan mengulangi shalatnya. Hal ini berdasarkan
hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu,
خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ ، فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ –
وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ – فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا ، فَصَلَّيَا ،
ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ ، فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ
وَالْوُضُوءَ ، وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ
لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ : أَصَبْت السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْك صَلَاتُك وَقَالَ
لِلْآخَرِ : لَك الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ
Ada dua orang lelaki yang bersafar.
Kemudian tibalah waktu shalat, sementara tidak ada air di sekitar
mereka. Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan tanah yang suci,
lalu keduanya shalat. Setelah itu keduanya menemukan air, sementara
waktu shalat masih ada. Lalu salah satu dari keduanya berwudhu dan
mengulangi shalatnya, sedangkan satunya tidak mengulangi shalatnya.
Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan menceritakan yang mereka alami. Maka beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya, “Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan shalatmu sah”. Kemudian Beliau mengatakan kepada yang mengulangi shalatnya, “Untukmu dua pahala.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan al-Albani)
Di Antara Hikmah Disyari’atkannya Tayammum
Diantara hikmah tayyamum adalah untuk
menyucikan diri kita dan agar kita bersyukur dengan syari’at ini.
Sehingga semakin nampak kepada kita bahwa Allah sama sekali tidak ingin
memberatkan hamba-Nya. Setelah menyebutkan syariat bersuci, Allah
mengakhiri ayat tersebut dengan firman-Nya:
مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ
وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak menyucikan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Qs. Al Maidah: 6).
Semoga Bermanfaat
Sumber: internet
Menurut ajaran Islam, kata setan pada dasarnya memiliki arti sebagai kata sifat, yang bisa digunakan kepada makhluk dari golongan jin, manusia, dan hewan. Kemudian Ibnu Katsir menyatakan pula, bahwa setan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan.
| "...dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al-An’am: 112)" |
Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Allah menjadikan setan dari jenis
manusia, seperti halnya setan dari jenis jin, dan hanyalah setiap yang
durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak
dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari
kebaikan.
Seperti yang kita ketahui bahwa hati adalah ibarat sebuah benteng. Syetan
sebagai musuh kita selalu ingin memasuki benteng tersebut. Setan
senantiasa ingin memiliki dan menguasai benteng itu. Tidak mungkin
benteng tersebut bisa terjaga selain adanya penjagaan yang ketat pada
pintu-pintunya.
Pintu-pintu tersebut tidak bisa terjaga kecuali jika seseorang
mengetahui pintu-pintu tadi. Setan tidak bisa terusir dari pintu
tersebut kecuali jika seseorang mengetahui cara setan memasukinya. Cara
setan untuk masuk dan apa saja pintu-pintu tadi adalah sifat seorang
hamba dan jumlahnya amatlah banyak. Pada saat ini kami akan menunjukkan
pintu-pintu tersebut yang merupakan pintu terbesar yang setan biasa
memasukinya. Semoga Allah memberikan kita pemahaman dalam permasalah
ini.
Pintu Pertama:
Pintu Pertama:
Ini adalah pintu terbesar yang akan dimasuki setan yaitu hasad
(dengki) dan tamak. Jika seseorang begitu tamak pada sesuatu, ketamakan
tersebut akan membutakan, membuat tuli dan menggelapkan cahaya
kebenaran, sehingga orang seperti ini tidak lagi mengenal jalan masuknya
setan. Begitu pula jika seseorang memiliki sifat hasad, setan akan
menghias-hiasi sesuatu seolah-olah menjadi baik sehingga disukai oleh
syahwat padahal hal tersebut adalah sesuatu yang mungkar.
Pintu Kedua:
Ini juga adalah pintu terbesar yaitu marah. Ketahuilah, marah dapat
merusak akal. Jika akal lemah, pada saat ini tentara setan akan
melakukan serangan dan mereka akan menertawakan manusia. Jika kondisi
kita seperti ini, minta perlindunganlah pada Allah. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه
“Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan: a’udzu billah (aku berlindung pada Allah), maka akan redamlah marahnya.” (As Silsilah Ash Shohihah no. 1376. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Pintu Ketiga:
Yaitu sangat suka menghias-hiasi tempat tinggal, pakaian dan segala
perabot yang ada. Orang seperti ini sungguh akan sangat merugi karena
umurnya hanya dihabiskan untuk tujuan ini.
Pintu Keempat:
Yaitu kenyang karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti
ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan untuk melakukan ketaatan pada
Allah. Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat sebagaimana dalam
hadits:
فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِى الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia, dialah yang akan sering lapar di hari kiamat nanti.” (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Pintu Kelima:
Yaitu tamak pada orang lain. Jika seseorang memiliki sifat seperti
ini, maka dia akan berlebih-lebihan memuji orang tersebut padahal orang
itu tidak memiliki sifat seperti yang ada pada pujiannya. Akhirnya, dia
akan mencari muka di hadapannya, tidak mau memerintahkan orang yang
disanjung tadi pada kebajikan dan tidak mau melarangnya dari
kemungkaran.
Pinta Keenam:
Yaitu sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk
perlahan-lahan. Padahal terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat
ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (Hadits ini diriwayatkan
oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh
Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Pintu Ketujuh:
Yaitu cinta harta. Sifat seperti ini akan membuat berusaha mencari
harta bagaimana pun caranya. Sifat ini akan membuat seseorang menjadi
bakhil (kikir), takut miskin dan tidak mau melakukan kewajiban yang
berkaitan dengan harta.
Pintu Kedelapan:
Yaitu mengajak orang awam supaya ta’ashub (fanatik) pada madzhab atau
golongan tertentu, tidak mau beramal selain dari yang diajarkan dalam
madzhab atau golongannya.
Pintu Kesembilan:
Yaitu mengajak orang awam untuk memikirkan hakekat (kaifiyah) dzat
dan sifat Allah yang sulit digapai oleh akal mereka sehingga membuat
mereka menjadi ragu dalam masalah paling urgen dalam agama ini yaitu
masalah aqidah.
Pintu Kesepuluh:
Yaitu selalu berburuk sangka terhadap muslim lainnya. Jika seseorang
selalu berburuk sangka (bersu’uzhon) pada muslim lainnya, pasti dia akan
selalu merendahkannya dan selalu merasa lebih baik darinya. Seharusnya
seorang mukmin selalu mencari udzur dari saudaranya. Berbeda dengan
orang munafik yang selalu mencari-cari ‘aib orang lain.
Semoga kita dapat mengetahui pintu-pintu ini dan semoga kita diberi taufik oleh Allah untuk menjauhinya.
Rujukan: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisiy
Semoga kita dapat mengetahui pintu-pintu ini dan semoga kita diberi taufik oleh Allah untuk menjauhinya.
Rujukan: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisiy
***
Pangukan, Sleman, 18 Muharram 1430 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/1574-10-pintu-setan-dalam-menyesatkan-manusia.html
Sepuluh Permintaan Syaitan yang Dikabulkan oleh ALLAH SWT
Ceritanya Rasulullah sedang berbicara
kepada iblis dan bertanya apa saja permintaan iblis yang sampai saat ini
dikabulkan Allah SWT. Ada 10 permintaan iblis yang dikabulkan Allah ..
Apa saja?
Nabi Muhammad : Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?
Syetan : 10 macam
Nabi muhammad : Apa saja?
Syaitan :
1. Aku minta agar Allah membiarkan aku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan.
Allah berfirman : “Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka”, tidaklah janji syaitan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)
Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
Allah berfirman : “Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka”, tidaklah janji syaitan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)
Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
2. Aku minta agar Allah membiarkan aku
ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan isterinya tanpa
berlindung dengan Allah, maka syaitan ikut bersamanya dan anak yang
dilahirkan akan sangat patuh kepada syaitan.
3. Aku minta agar boleh ikut bersama dengan orang yang menaiki kenderaan bukan untuk tujuan yang halal.
4. Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
5. Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.
6. Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Al Qur’anku.
7. Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.
8. Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah swt berfirman, “Orang-orang boros adalah saudara-saudara syaitan.” (QS Al-Isra : 27).
9. Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
10. Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, “silakan”, dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebahagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.”
Iblis berkata : “Wahai muhammad, aku tak
bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikkan dan
menggoda. Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa walau seorang
pun…!!!
Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa
memberikan hidayah sedikitpun, engkau hanya Rasul yang menyampaikan
amanah. Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di
muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah
ditentukan sengsara hidupnya. Orang yang bahagia adalah orang yang telah
ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah
orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.”
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :
“Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 – 119)
“Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)
Iblis lalu berkata:
“Wahai Muhammad Rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk syurga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin makhluk-makhluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. Aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu dan aku tak berbohong.
Sumber: http://www.myberita.net/10-permintaan-syaitan/
Semoga Bermanfaat.
Postingan kali ini adalah beberapa do'a-do'a yang pernah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadist. Doa-doa orang-orang terdahulu saja (Seperti do’a para Sahabat, tabi’in,
tabiit, para Wali, Anbiya diijabah (dikabul) oleh Allah, apatah lagi
do’a para Nabi dan Rasul? Hakikatnya do’a para Nabi dan Rasul itu contoh
untuk kita (umat) sebagai amaliyah, wabil khusus doa-doaa manusia
pilihan, kekasih Allah, Nabi termulia, Rasul paling Agung.
”Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina.” (QS. Al-Mukmin : 60).
Sementara didalam Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Tirmidzi, Rasulullah bersabda: (yang artinya) ”Do’a itu adalah otaknya ibadah.” Dan Hadist riwayat Imam Hakim dan Abu Ya’la, bersabda Rasulullah : (yang artinya) ”Do’a itu adalah senjata orang yang beriman dan tiangnya agama serta cahaya langit dan bumi.”
”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka
(jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah : 186)
”Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu. (QS. Al-Mukmin : 60)
”Bedo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raaf : 55)
”Maka serulah (sembahlah) Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya” (QS. Al-Mukmin : 65)
Adapun Do'a Para Nabi dan Rasul seperti yang dikutip pada judul postingan ini sebagai berikut:
DOA NABI ADAM
“ Robbana dholamna anfusana
wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin “
Artinya :
Ya Allah , kami telah
mendholimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati
kami tentulah kami menjadi orang yang rugi.
DOA NABI NUH
“ Robbi inni audzubika an as
alaka maa laisalli bihi ilmun wa illam tagfirli watarhamni akum minal khosirin
“ (QS. Hud; 47)
Artinya :
Ya Tuhanku sesungguhnya aku
berlindung kepadaMu dari sesuatu yang aku tidak mengetahui hakekatnya, dan
sekiranya tidak Engkau ampuni dan belas kasih niscaya aku termasuk orang –
orang yang merugi.
DOA NABI IBRAHIM
“ Robbana taqobal minna
innaka anta sami’ul alim wa tub alaina innaka antat tawwaburrokhim “ (Al-Baqarah;
128-129)
Artinya :
Ya Tuhan kami terimalah
amalan kami sesungguhnya Engkau maha mendengar dan Mengetahui, dan termalah
taubat kami, sesungguhnya Engkau penerima taubat lagi Maha Penyayang.
“ Robbi ja alni muqimas
sholati wa min dzuriyyati, robbana wa taqobal doa, Robbannagh firli wa li wa li
dayya wa li jamiil mukminina yauma yaqumul hisab “ (ibrahim ; 40 -41)
Artinya :
Ya Tuhanku jadikanlah aku
dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku
perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan
seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab.
DOA NABI YUNNUS
“ Lailaha illa anta
subhanaka inni kuntum minadh dholimin “ (QS. Al-Anbiya ; 87)
Artinya :
Tidak ada Tuhan Tuhan selain
Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku orang yang dholim.
DOA NABI ZAKARIYA
“ Robbi latadzarni wa anta
choirul warisin “ (QS. Al-Anbiya ; 89)
Artinya :
Ya Allah janganlah Engkau
membiarkan aku hidup seorang diri, sesungguhnya engkau pemberi waris yang
paling baik.
“ Robbi habli miladunka
duriyattan, thoyibatan innaka sami’ud du’a “ (QS. Ali-Imron;28)
Artinya :
Ya Tuhan berilah aku seorang
anak yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau maha pendengar Doa.
DOA NABI MUSA
“ Robis shrohli shodri wa ya
shirli amri wah lul uqdatam mil lissani yah khohu khouli “ (QS. Thoha ; )
Artinya :
Ya Tuhanku lapangkanlah
dadaku, dan lancarkanlah lidahku serta mudahkanlah urusanku.
“ Robbi inni dholamtu nafsi
fa firlhi “ (QS. Al-Qhosos ; 16)
Artinya :
Ya Allah aku menganiaya diri
sendiri, ampunilah aku.
“ Robbi Naj jini minal qumid
dholimin “
Artinya :
Ya Tuhan lepaskanlah aku
dari kaum yang dholim
“ Robbi ini lima anzalta
illayya min khoirin faqir “ (QS. Al-Qhosos ; 24)
Artinya :
Ya Tuhanku sesungguhnya aku
memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku
“ Robbi firli wa li akhi wa
adkhilna fi rohmatika, ya arhamar rokhimin “
Artinya :
Ya Tuhanku ampunilah aku dan
saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau Maha Penyayang
diantara yang menyayangi
DOA NABI ISA
“Robbana anzil alaina ma
idatam minas samai taqunu lana idzal li awalina, wa akhirina, wa ayyatam minka
war zukna wa anta khoiru roziqin “ (QS. Al-Maidah ; 114)
Artinya :
Ya Tuhanku turunkanlah pada
kami hidangan dari langit, yang turunnya akan menjadi hari raya bagi kami,
yaitu bagi orang – orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami,
menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rejeki dan Engkaulah pemberi
rejeki yang paling baik.
DOA NABI SYUAIB
“ Robbana taf bainana, wa
baina kaumina bil haqqi , wa anta khoirul fatihin “ (QS. Al-A’raf; 89)
Artinya :
Berilah keputusan diantara
kami dan kaum kami dengan adil, Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik –
baiknya.
DOA NABI AYYUB
“ Robbi inni masyaniyad
durru wa anta arhamur rohimin “
Artinya :
Bahwasanya aku telah ditimpa
bencana, Engkaulah Tuhan yang paling penyayang diantara penyayang.
DOA NABI SULAIMAN
“ Robbi auzidni an askhuro
ni’matakallati an amta allaya wa ala wa li dayya wa an a’mala sholikhan
tardhohu wa ad khilni birrohmatika fi ibadikas sholikhin “ (QS. An-Naml; 19)
Artinya :
Ya Tuhan kami berilah aku
ilham untuk selalu mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku,
dan kepada kedua ibu bapakku dan mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridloi,
dan masukkanlah aku dengan rahmatMu kedalam golongan hamba-hambMu yang Sholeh.
DOA NABI LUTH
“ Robbi naj jini wa ahli
mimma ya’malun “
Artinya :
Ya Tuhanku selamatkanlah aku
beserta keluargaku dari perbuatan yang mereka kerjakan.
“ Robbin surni alal kaumil
mufsidin “ (Assyu Araa ; 169)
Artinya :
Ya Tuhanku tolonglah aku
dari kaum yang berbuat kerusakan
DOA NABI YUSUF
“ Fatiros samawati wal ardli
anta fiddunya wal akhiro tawwaffani musliman wa al hiqni bissholihin “ (QS. Yusuf
; 101)
Artinya :
Wahai pencipta langit dan
bumi Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat wafatkanlah aku dalam keadaan
pasrah (islam), dan masukkanlah aku dengan orang-orang sholeh.
DOA NABI MUHAMMAD SAW
“ Robbana atina fiddunya
hasanatan wa fil akhiroti hassanatan wa qina adza bannar “ (QS. Al-Baqara ; 201
dan hadist)
Artinya :
Ya Tuhanku berikanlah aku
kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah aku dari api neraka
“ Robbana latuzig qullubana
ba’daidz haddaitana wahabblana miladunka, rohmatan innaka antal wahab” (QS.
Ali-Imron; 8)
Artinya :
Ya Tuhanku janganlah Engkau
palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan berilah kami rahmat,
sesungguhnya Engkau adalah dzat yang banyak pemberiannya.
Semoga Bermanfaat
Sumber: http://annastacy.wordpress.com/2009/03/04/doa-para-nabi/





